Sabtu, 28 April 2012

Peristiwa Sejarah dan Nilai Budaya Bangsa yang Memiliki Pandangan Visioner terhadap Budaya Bangsa


BAB I PENDAHULUAN

1.1.         LATAR BELAKANG

Indonesia terlahir dari perjalanan sejarah yang sangat panjang mulai dari masa Kerajaan Kutai sampai masa keemasan Kerajaan Majapahit serta munculnya kerajaan-kerajaan islam. Kemudian mengalami masa kebangkitan nasional disertai dengan adanya penjajahan Belanda dan jepang hingga mencapai detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dari keseluruhan peristiwa sejarah Indonesia ini,tentulah terdapat peristiwa dan nilai-nilai budaya yang dijadikan sebagai tujuan hidup rakyat Indonesia yang pada akhirnya pula ditetapkan dalam perumusan Pancasila. Pancasila tidaklah lahir begitu saja, pancasila memiliki asal muasal. Asal muasal itu ada asal mula langsung dan asal mula tak langsung.
1.      Asal mula Langsung
v  Asal mula bahan atau kausa materialis adalah bahwa pancasila bersumber dari nilai-nilai adat istiadat,budaya dan nilai religius yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
v  Asal mula bentuk atau kausa formalis adalah kaitan asal mula bentuk,rumusan dan nama pancasila sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD’45 yang merupakan pemikiran Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta dan para anggota BPUPKI.
v  Asal mula karya atau kausa efisien adalah penetapan pancasila sebagai calon dasar negara menjadi dasar negara yang syah oleh PPKI.
v  Asal mula tujuan atau kausa finalis adalah tujuan yang diinginkan oleh BPUPKI,PPKI termasuk di dalamnya Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta dari rumusan pancasila sebelum disyahkan oleh PPKI menjadi dasar negara yang sah.
2.      Asal mula tak langsung
jauh sebelum proklamasi kemerdekaan,masyarakat indonesia telah hidup dalam tatanan kehidupan yang penuh dengan
v  Nilai-nilai ketuhanan,nilai kemanusiaan,nilai persatuan,nilai kerakyatan dan nilai keadilan.
v  Nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang memaknai adat istiadat, kebudayaan serta nilai-nilai relijius dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
v  Oleh karena itu,secara tidak langsung pancasila merupakan penjelmaan atau perwujudan bangsa indonesia itu sendiri karena apa yang terkandung dalam pancasila merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa indonesia seperti yang dilukiskan oleh Ir.Soekarno dalam tulisannya “Pancasila adalah lima mutiara galian dari ribuan tahun sapsapnya sejarah bangsa sendiri”.
Kedudukan dan Fungsi pancasila ada empat,yaitu pancasila sebagai pandangan hidup bangsa,pancasila sebagai dasar negara republik indonesia,pancasila sebagai tujuan nasional bangsa dan negara dan pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara indonesia.
Sesuai kapasitas dan judul yang diberikan,maka saya hanya akan membahas tentang pancasila sebagai pandangan hidup bangsa berikut peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa yang melatarbelakanginya.




1.2.        RUMUSAN MASALAH

1. Peristiwa sejarah dan nilai budaya apa saja yang memiliki pandangan visioner terhadap budaya bangsa?
2. Apakah peristiwa dan nilai-nilai budaya itu masih menjadi tujuan dan pandangan hidup bangsa?

1.3.        TUJUAN DAN KEGUNAAN PENULISAN MAKALAH

1. Tujuan Penulisan Makalah
a. Untuk mengetahui sejarah dan nilai-nilai budaya yang memiliki pandangan visioner terhadap budaya bangsa.
b. Untuk mengetahui eksistensi dari sejarah dan nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup bangsa.
2. Kegunaan Penulisan Makalah
a. Bagi Penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah Pancasila.
b. Bagi pihak lain
Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan peristiwa dan nilai budaya bangsa yang memiliki pandangan visioner terhadap budaya bangsa,


















BAB II PEMBAHASAN

2.1.        ZAMAN KERAJAAN-KERAJAAN

Pada zaman ini masyarakat juga belum mengenal Pancasila tetapi mereka sudah mengamalkan unsur-unsur Pancasila, seperti hidup saling tolong menolong dan mengamalkan kebudayaan-kebudayaan yang ada. Dimana masyarakat pada zaman ini sudah memiliki sistem pemerintahan yang kuat

1.      Kerajaan Kutai

Kerajaan ini dibangun pada tahun 400 M, dengan rajanya yang pertama adalah Kudungga yang kemudian digantikan oleh Mulawarman dan Aswawarman. Kerajaan Kutai adalah yang pertama kali membuka sejarah bangsa Indonesia dengan menunjukkan nilai sosial politik (bentuk kerajaan ), nilai keTuhanan berupa pengembangan agama Buddha, kenduri dan sedekah kepada para brahmana.

2.      Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Balaputra Dewa dari Wangsa Syailendra (600-1400) jaman kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu). Menurut Moh. Yamin, berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan lama. Negara kebangsaan Indonesia terbentuk melalui Tiga tahap yaitu :
v  Pertama : Zaman Kerajaan Sriwijaya yang bercirikan Kedatuan,
v  Kedua : Negara kebangsaan pada zaman Kerajaan Majapahit yang bercirikan Keprabuan, dan
v  Ketiga : adalah Negara Kebangsaan (Nation State) Modern yakni Indonesia Merdeka yang pada tanggal 18 Agustus 1945 telah sah menjadi sebuah Negara.

Nilai-nilai yang bisa kita petik dari kerajaan Sriwijaya, antara lain:
1. Nilai nasionalisme yang berhubungan dengan kerajaan yang berciri Kedatuan.
2. Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan Maritim yang mengandalkan kekuatan laut,memegang kunci lalu lintas disekitar Selat Sunda bahkan Selat Malaka.
3. Sistem manajemen yang baik karena di dalam sistem pemerintahannya sudah terdapat pengurus pajak, harta benda Kerajaan, rohaniwan menjadi pengawas pembangunan rumah-rumah ibadat.
4. Memiliki cita-cita. Kerajaan Sriwijaya telah mempunyai cita-cita tentang kesejahteraan bersama dalam suatu Negara, tertuang dalam bunyi slogan Marvuat vanua Criwijaya siddhyatra subhiksa ( Suatu cita-cita Negara yang adil dan makmur) .
5. Nilai Pendidikan yang terbukti dengan adanya universitas agama budha yang sangat terkenal di Asia

3.      Kerajaan-Kerajaan sebelum Kerajaan Majapahit

Pada zaman ini diterapkan antara lain/ raja aiar langgi sikap tolerensi dalam beragama, nilai-nilai kemanusiaan (hubungan dagang&kerjasama dengan benggala, chola, dan chompa) serta memperhatikan kesejahteraan pertanian bagi rakyat dengan dengan membangun tanggul&waduk.


4.      Kerajaan Majapahit

Pada tahun 1293 berdirilah Kerajaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya di bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada. Pada masa kejayaannya wilayah Majapahit membentang dari semenanjung Melayu sampai ke Kalimantan Utara. Pada masa itu Mpu Prapanca menulis Kitab Negarakertagama (1365) yang di dalamnya terdapat istilah Pancasila, Mpu Tantular menulis buku Sutasoma, yang di dalamnya ditemukan seloka persatuan nasional, yakni Bhinneka Tunggal Ika, yang bunyi lengkapnya Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua, yang artinya, walaupun berbeda namun satu jua. Dari seloka ini menunjukan bahwa kerajaan Majapahit sudah menganut paham demokrasi, yakni adanya toleransi dan mengakui adanya perbedaan antara agama Budha, Hindu dan Islam yang dianut oleh kerajaan Samudera Pasai (Aceh).
Patih Gadjah Mada mempunyai cita-cita ingin mempersatukan seluruh Nusantara Raya, dengan bersumpah (Sumpah Palapa) “Saya tidak akan makan buah Palapa (kelapa)
jikalau belum seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik belum dikalahkan.” Kerajaan Majapahit juga memiliki nilai kerjasama dengan membangun hubungan diplomatik dengan kerajaan mancanegara, antara lain Tiongkok, Ayodya, Champa, dan Kamboja.


2.2.   Kebangkitan Nasional

Pada masa ini banyak berdiri gerakan-gerakan nasional / mewujudkan suatu bangsa yang memiliki kehormatan akan kemerdekaan dan kekuataannya sendiri.
Pergerakan nasional di tanah air dilatarbelakangi adanya pergolakan kebangkitan dari Dunia Timur, yaitu munculnya kesadaran akan kekuatannya sendiri, antara lain dari Filipina (1898) yang dipimpin oleh Jose Rizal, kemenangan Jepang atas Rusia di Tunisia (1905), Sun Yat Zen dari China melawan Jepang (1911) , India yang dipelopori oleh Nehru dan Mahatma Gandhi melawan Inggris. Adapun di Indonesia pergerakan nasional yang merupakan kebangkitan akan kesadaran kebangsaan (nasional) dipelopori oleh dr. Soetomo dan dr. Wahidin Soediro Hoesodo dengan nama Boedi Oetomo (BO) yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1908. Asas yang digunakan adalah kooperatif serta bertujuan mengangkat derajat bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Hanya dengan melalui pendidikan cita-cita ini akan tercapai. Setelah itu muncul pergerakan-pergerakan lain, yakni SDI, SI, Indische Partij dan seterusnya. Pada mulanya pergerakan-pergerakan itu berasaskan kooperatif, namun perkembangannya berubah menjadi non kooperatif, awalnya bertujuan hanya berhubungan dengan perdagangan, sosial, agama dan pendidikan, namun kemudian meningkat menjadi sebuah tuntutan politik, yaitu Indonesia Merdeka.
Tujuan merdeka dengan bebas diekspresikan dengan kata-kata yang dipelopori oleh kaum muda dari seluruh nusantara, dari Jawa Jong Java, dari Ambon Jong Ambon, dari Sulawesi Jong Celebes, dari Sumatra Jong Sumatra, sedangkan tokoh-tokoh pemudanya antara lain Moh. Yamin, Wongsonegoro, dan Kuncoro Probopranoto. Perjuangan rintisan kesatuan nasional para pemuda dimanifestasikan dalam bentuk ikrar, maka pada kongres Pemuda ke II pada tanggal 28 Oktober 1928, ikrar tersebut diwujudkan dalam Sumpah Pemuda, berisi Berbangsa satu, bangsa Indonesia, berbahasa satu, bahasa Indonesia dan bertanah air satu, tanah air Indonesia, bersama itu pula dikumandangkan Lagu Indonesia Raya ciptaan W R Supratman..

2.3.        ZAMAN KEMERDEKAAN

Sebelum sampai pada jaman kemerdekaan,sebenarnya ada pula jaman penjajahan oleh Belanda dan jepang,namun saya tidak menjelaskannya,karena saya tidak menemukan adanya nilai budaya yang memiliki pandangan visioner saat itu.
Pada zaman kemerdekaan, terdapat nilai-nilai yang bisa kita ambil yaitu nilai kerja keras dan nilai musyawarah . nilai kerja keras itu ada karena perjuangan tiada henti yang dilakukan para pejuang kita untuk memperoleh kemerdekaan,sehingga akhirnya Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah merdeka,PPKI pun kembali berkumpul untuk bermusyawarah menentukan landasan hukum,pancasila,undang-undang dasar dan lain sebagainya

2.4.        ZAMAN ORDE BARU

Pada zaman ini bangsa Indonesia masih bisa mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara karena Pancasila dianggap sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Tetapi lebih jauh dipertandingkan dan digunakan untuk menekan perbedaan. Ia menjadi alat represi ideologi politik dan memberangus lawan politik di pentas publik. Skrining ideologi mulai dari partai politik, organisasi massa, hingga ke urusan pribadi menjadi fenomena yang mencolok selama kekuasaan Orde Baru, terlebih lagi setelah pada tahun 1978 Majelis Permusyawaratan Rakyat mengeluarkan ketetapan tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tetapi sebagian masyarakat Indonesia telah menyalahgunakan nilai-nilai Pancasila dan terjadilah KKN. Sehingga bangsa Indonesia mengalami krisis terutama dibidang ekonomi.

2.5.        ZAMAN REFORMASI

Di era reformasi ini, Pancasila seakan tidak memiliki kekuatan mempengaruhi dan menuntun masyarakat. Pancasila tidak lagi populer seperti pada masa lalu. Elit politik dan masyarakat terkesan masa bodoh dalam melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memang sedang kehilangan legitimasi, rujukan dan elan vitalnya. Sebab utamannya sudah umum kita ketahui, karena rejim Orde Lama dan Orde Baru menempatkan Pancasila sebagai alat kekuasaan yang otoriter.

    2.6.  MENELADANI NILAI-NILAI JUANG PARA TOKOH PERUMUS PANCASILA

Apa yang dapat kita teladani dari sejarah perumusan Pancasila? Selain kebersamaan, apa saja nilai juang yang ada pada proses perumusan Pancasila? Berikut antara lain nilai - nilai tersebut.
1. Musyawarah
Musyawarah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Musyawarah adalah cara yang ditempuh anggota BPUPKI ketika merumuskan Pancasila. Dengan banyaknya perbedaan, pengambilan keputusan memang sulit dilakukan. Namun, para perumus Pancasila membuktikan bahwa mereka dapat bekerja sama. Padahal, mereka memiliki banyak perbedaan. Dengan kerja sama, sebuah keputusan bersama berupa Pancasila pun berhasil disepakati. Kerja sama tersebut terwujud dalam musyawarah.
2. Menghargai Perbedaan
Kesediaan menghargai perbedaan merupakan salah satu kunci keberhasilan musyawarah. Tanpa adanya kesediaan ini, keputusan dalam musyawarah tidak akan tercapai. Menghargai perbedaan terletak pada kesediaan untuk menerima pendapat yang berbeda demi kepentingan yang lebih besar. Dalam perumusan Pancasila, hal ini terbukti penghapusan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk - pemeluknya”. Namun dengan adanya kesediaan menghargai perbedaan, perdebatan tersebut tidak menjadi permusuhan. Dengan kesediaan menghargai perbedaan lahirlah keputusan untuk mengganti rangkaian kata tersebut. Akhirnya, para perumus memutuskan untuk mengubah kata - kata tersebut menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa".
3. Toleransi
Toleransi masih berkaitan dengan menghargai perbedaan. Latar belakang yang berbeda dari para perumus dasar negara disatukan dalam wadah BPUPKI. Tentu saja perbedaan ini terbawa ke dalam sidang. Latar belakang yang berbeda pendapat yang muncul pun beragam. Perbedaan tersebut bahkan kadang saling bertentangan. Agar dapat melahirkan sebuah dasar negara yang kokoh, perbedaan ini tidak boleh menjadi penghambat. Disinilah arti penting toleransi. Tanpa adanya toleransi, keputusan bersama tidak akan terwujud.
Itulah beberapa nilai juang yang harus kita teladani dari para perumus Pancasila. Tentu saja masih banyak nilai lain yang dapat kita teladani.
2.7.     PERAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

            Pancasila yang sejatinya adalah sesuatu yang harus tetap dijadikan pandangan hidup bangsa Indonesia,kini menjadi tergeser posisinya sejalan dengan arus globalisasi yang kian merajai. Pancasila di era globalisasi cukup sulit untuk membimbing rakyat. Terdapat berbagai macam budaya  dari negara lain yang masuk ke Indonesia,dan sebagian besar budaya itu telah mendarah daging pada rakyat Indonesia,baik itu budaya yang baik maupun buruk.

            Indonesia kini benar-benar mengalami krisis dalam banyak hal. Ekonomi,moral,kejujuran,persatuan dll. Kenyataan ini semakin mendekatkan negara ini pada kata “kehancuran”. Namun semua itu masih bisa kita perbaiki. Dengan menilik kembali sejarah perjuangan para pahlawan,dengan kembali pada pancasila.






BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

            Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia diambil dari peristiwa sejarah yang memiliki nilai-nilai visioner terhadap budaya bangsa. Dari jaman kerajaan sampai jaman proklamasi. Namun saat memasuki orde baru dan era reformasi,ada sebagian orang yang melanggar pancasila yang mengakibatkan negara ini menjadi sedikit berantakan. Memasuki era globalisasi, nilai-nilai pancasila itu semakin jelas memudar yang juga semakin mendekatkan negara ini pada kata “kehancuran”. Namun semua itu belum terlambat,kita masih bisa memperbaikinya. Kita masih bisa kembali pada pandangan hidup kita,pancasila.
Dengan menjadikan Pancasila sebagai landasan dan pandangan hidup, diharapkan tujuan pendidikan Pancasila akan dapat terwujud. Masyarakat Indonesia yang memahami Pancasila dengan baik, mereka tidak hanya mengetahui makna Pancasila, mereka juga harus memahami dengan benar dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya mungkin

3.2. Saran

            Mengingat ketidaksempurnaan makalah ini,saya menyarankan agar peneliti masa depan bisa meneliti lebih jauh lagi tentang peristiwa sejarah bangsa indonesia yang menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.


























DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar